Rabu, 05 November 2008

Kebudayaan Tak Sekedar Warisan

Resensi

Judul Buku : Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan

Pengarang : Koentjaraningrat

Tebal Buku : 151 halaman

Cetakan : Keenam belas

Terbit : Januari 1993

Penerbit : PT.Gramedia Pustaka Utama

Sebuah buku bunga rampai berjudul Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan yang diterbitkan berdasarkan seri-seri karangan populer dalam sebuah koran Kompas yang terbit pada tahun 1974. Pada dasarnya tulisan-tulisan yang dimuat di surat kabar hingga menjadi sebuah buku tersebut, ditujukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar aspek-aspek kebudayaan, mentalitas dalam pembangunan Negara Indonesia.

Buku Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan memberitahukan kepada kita mengenai apa peran kebudayaan dan mentalitas kita terhadap pembangunan kita, baik itu dalam Negara atau apapun.

Secara awam kebudayaan diartikan sebagai sebuah seni, namun di dalam buku ini Koentjaraningrat berpendapat bahwa kebudayaan itu mempunyai paling sedikitnya tiga wujud, ialah;

  1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya.
  2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.
  3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Selain itu dalam buku ini juga dijelaskan lagi mengenai arti kebudayaan, seperi halnya secara harafiah kebudayaan dapat berarti hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal. Namun menurut Koentjaraningrat sendiri kebudayaan berarti Keseluruhan gagasan dan karya manusia yang dibiasakannya dari belajar, serta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu.

Dalam Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan ini juga menjelaskan mengenai Pranata kebudayaan, Perbedaan adat dan hukum adat, Mentalitas pembangunan kita yang lemah, dan Bagaimana cara mengembangkan Mentalitas pembangunan kita yang berada dibawah Jepang.

Namun dalam buku ini tidak hanya menjelaskan setiap pengertian atau pertanyaan dengan begitu saja, karena penulis tahu bahwa setiap pertanyaan itu membutuhkan sebuah penjelasan dan contoh yang cukup panjang agar mudah dimengerti oleh pembacanya, walaupun terkadang terasa berbelit-belit dan tak singkat, tapi penjabarannya cukup jelas, sehingga kita dapat menyimpulkan mengenai beberapa jawaban.

Dalam Kebudayaan Mentalis dan Pembangunan ini juga banyak mengambil contoh masyarakat Jepang yang memang sering dikatakan memiliki persamaan kebudayaan dengan masyarakat Indonesia, namun sayangnya memiliki tingkat mentalitas dan pembangunan yang jauh lebih tinggi daripada masyarakat Indonesia, dan untuk merubah mental masyarakat Indonesia yang disesuaikan dengan zaman sekarang, maka dilakukanlah modernisasi atau berusaha untuk hidup sesuai dengan zaman dan konstelasi dunia sekarang.

Buku berukuran kecil ini cukup mampu menjelaskan kepada kita mengenai kebudayaan serta mentalitas kita dalam pembangunan yang terkadang diabaikan, dan memberikan gambaran kepada kita tentang masalah-masalah kebudayaan yang sangat erat kaitannya dengan pembangunan bangsa Indonesia ini.

[+/-] Selengkapnya...

Conan The Movie

Gambar Yang Menjadi Nyata

Judul:

Detective Conan ‘Challenge Letter To Shinichi’

Genre:

Action, Drama, Misteri

Pemeran:

Oguri Sun, Tomoko Kurokawa, Jinai Takanori

Film berjudul Detective Conan ‘Challenge Letter To Shinichi’ ini merupakan film pertama Detective Conan dalam versi manusia tentunya setelah beberapa film versi animasinya yang menuai sukses. Kisah Detective karya Gosho Aoyama ini memang benar-benar menuai sukses, hal itu terbukti dari beberapa Negara yang melisensi anime ini, termasuk Indonesia.

Tak perlu diragukan memang, karena cerita karya Gosho Aoyama ini memiliki kekuatan dalam hal pengetahuan. Banyak pengetahuan yang bisa didapat dari Detective Conan, mulai dari ilmu fisika yang banyak diterapkan dalam kasus, ataupun ilmu kimia yang tak jarang ditemukan dalam cerita bergenre remaja ini, dan yang tak ketinggalan adalah ilmu kejiwaan serta kedokteran yang seringkali terselip indah dalam cerita. Hal itu menunjukkan pengetahuan penulis yang sangat luas, dan seringkali menimbulkan pujian, “Wah, ini yang nulis pinter banget!”

Pada dasarnya, gaya penuturan dan cara analisis yang digunakan dalam kisah ini sangat dipengaruhi oleh novel besar karya Sir Arthur Conan Doyle, yaitu Sherlock Holmes. Tapi walaupun begitu, ceritanya sangat menarik, karena selain cerita fiktif dalam film Detective Conan ini juga mengajak penontonnya untuk mencoba turut masuk ke dalam alur cerita yang seringkali membutuhkan nalar kita dan juga membutuhkan perhitungan ataupun pengetahuan yang ilmiah dan real.

Dalam hal acting dan pemilihan tokoh khususnya tokoh Shinichi yang diperankan oleh Oguri Shun boleh dikatakan menjiwai, meskipun ada aura yang hilang dari tokoh animasinya yang jauh lebih keren dan cool. Sedangkan Tomoko Kurokawa yang memiliki wajah melankolis cocok sekali memerankan Ran, seorang gadis yang mudah menangis, jadi saat situasi penuh haru ini acting Tomoko Kurokawa tampak lebih dalam, dan mampu membuat penonton terhanyut dalam tangisan.

Kisah berawal dari Shinichi Kudo, seorang murid SMA yang terobsesi kisah detektif Sherlock Holmes, dan dengan bakat analisanya yang spektakuler ia berhasil memecahkan beberapa kasus kriminal di daerah tempat tinggalnya. Pemuda SMA ini dekat dengan Ran teman bermainnya sejak kecil, yang diperankan oleh Tomoko Kurokawa. Ran adalah seorang gadis yang jago karate, ia merupakan putri tunggal seorang detektif "gagal" bernama Kogoro Mouri ( Jinai Takanori). Shinichi dan Ran punya hubungan khusus yang sama-sama tak diakui keduanya dan meskipun Shinichi terlihat tidak peduli tapi sebenarnya hanya Ran-lah satu-satunya gadis yang paling penting baginya.

Kasus dalam film ini dimulai ketika SMA mereka (SMA Teitan) mengadakan tour sekolah. Shinichi yang awalnya tidak mau ikut, akhirnya terpaksa ambil bagian ketika ia menerima sebuah surat tantangan yang dikirim seorang yang mengaku sebagai "Kidnapper" (penculik). Orang tersebut akan menculik teman SMA Shinichi, dan Shinichi ditantangnya memecahkan trik yang akan dibuatnya. Trik pertama gagal; Sonoko, sahabat baik Ran, diculik di atas kapal ketika grup mereka sedang menyeberang pulau. Trik kedua pun demikian, Ran menghilang ketika mereka semua dikunci dalam ruang tertutup, dan sang Kidnapper hanya memberi batas 12 jam bagi Shinichi, sebelum sebuah bom dalam ruangan dimana Ran dan Sonoko disekap meledak.

Berhasilkah Shinichi memecahkan trik tersebut? Dan siapakah sebenarnya Kidnapper itu?

Terlepas dari itu semua, film yang diangkat dari kisah animasi ini mempunyai banyak sekali tantangan. Antaralain adalah pemilihan tokoh yang layak memerankan tokoh-tokoh yang jelas saja sudah melekat erat di pikiran dan benak para pecinta Conan, sedangkan tokoh Shinichi yang diperankan oleh Oguri Shun terlihat jauh dari bayangan para pembaca komiknya, walaupun begitu kita menyadari bahwa sulit mencari manusia yang mirip dengan animasinya, tapi terkadang hal ini menyebabkan terjadinya sebuah pemaksaan tokoh atau memaksakan peran, seperti halnya tokoh Inspektur Megure yang digambarkan gendut dan berperut besar. Mungkin sulit mencari actor gendut yang tetap memiliki kewibawaan, sehingga dipilihlah actor yang dibuat gendut, tentunya dengan perut yang diganjal (mungkin dengan bantal) sehingga terlihat maksain banget. Selain itu ada juga tokoh Ran yang dalam animasinya memiliki tinggi badan yang tidak jauh berbeda dengan Shinichi, tapi dalam ‘Challenge Letter To Shinichi’ ini diperankan oleh Tomoko Kurokawa yang tinggi badannya jauh di bawah Oguri Shun. Dan yang tak terlupakan adalah tokoh Kogoro Mouri yang dalam film ini terlihat jauh lebih tua daripada versi animasi, tapi acting Jinai Takanori cukup baik dengan wajah konyolnya.

Walaupun begitu, film ini boleh terbilang mahal dengan segala property syuting yang sangat mendekati animasinya. Seperti halnya, kapal pesiar yang mewah, hotel yang megah, serta pemandangan rumah Shinichi yang tak kalah megah dengan gambar animasinya.

Setelah me review film Detective Conan versi manusia ini, kita juga dapat mengetahui bahwa ada hal yang berbeda dalam pembuatan film yang sebelumnya telah tenar sebagai buku yang dibaca, apalagi sebuah komik yang sudah tenar dan memiliki gambaran yang pastinya sudah terbayang dengan baik di benak para pembaca, dan kemudian pembuat film pastilah akan dituntun untuk memberikan gambaran tokoh manusia yang lebih real lagi, mungkin tingkat kesulitannya lebih tinggi dibandingkan film yang diangkat dari novel ataupun buku, dimana pembaca dapat menghayal dan menggambarkan sendiri bagaimana sosok tokoh yang ada dalam cerita.

Ditulis Oleh:

Maria Nofianti

S1-Jurnalistik / 01A070804

Memahami merupakan sebuah cara agar seseorang dapat belajar dan mencoba berfikir …

[+/-] Selengkapnya...

Arti Sebuah Keesaan

ARTI SEBUAH KEESAAN

Judul : Keesaan Tuhan ‘Sebuah Pembahasan Ilmiah’

Penulis : Q.Hashem

Penerbit : Penerbit Pustaka (Perpustakaan Salman ITB)

Cetakan : Ke III, Bandung 1983

Tuhan, sebuah kata yang tak tergantikan dan teramat sakral. Tapi Keesaan Tuhan adalah suatu hal mutlak yang harus dipercaya oleh setiap manusia beriman. Meski banyak hal yang terkadang membuat seseorang menanyakan mengenai-Nya, bahkan tak jarang pula yang meragukan mengenai Tuhan serta Keesaannya. Berbagai pandangan dan pendapat bermunculan mengenai Keesaan Tuhan, baik itu pandangan atau pendapat positif maupun negative.

Dalam buku kecil ini kita dapat mengetahui mengenai agama dan sebuah pemikiran (ilmu pengetahuan), dimana kedua hal ini harus masuk ke dalam otak manusia secara seimbang. Hal ini dikarenakan untuk menghindari sebuah kesalahan intelektual yang tak jarang terjadi.

Penulis pun menuturkan mengenai pembahasan Yunani dan agama Hindu, dimana Hinduisme sangat dipengaruhi oleh mitologi-mitologi Yunani. Dalam hal ini pun dilakukan pembeberan langsung mengenai berbagai kesamaan antara mitologi Yunani dan Hinduisme, yang dilakukan oleh para penyelidik dan para ilmuwan (Jerman). Dan yang cukup mengejutkan adalah pernyataan mengenai lenyapnya injil yang asli yang sudah terjadi berabad-abad lalu.

Beberapa pernyataan dalam buku ini mungkin dapat juga membuat beberapa orang atau sebagian orang merasa tersinggung, tetapi berbagai pembahasan ilmiah mengenai keesaan Tuhan ini cukup dapat diterima oleh akal dan pikiran kita sehingga sebagian pembaca yang memiliki pandangan terbuka dan rasional pun dapat menerimanya sebagai suatu pembahasan ilmiah yang bertanggungjawab.

[+/-] Selengkapnya...